Home Schedule Profile FAQ                

 Printable FAQ version: Bahasa Indonesia   -  English

 

Sample Based Observation (SBO)

 

1.        Apa itu Sample Based Observation (SBO)?

SBO adalah sebuah kegiatan pemantauan pemilu dengan menggunakan prinsip statistik untuk mengumpulkan informasi terkait dengan keseluruhan proses pelaksanaan hari pemilu.  Kegiatan SBO ini serupa dengan kegiatan pemantauan pemilu yang dikenal dengan Parallel Vote Tabulation (PVT) atau lebih dikenal di Indonesia dengan nama Pemantauan Quick Count.

 

2.      Apa beda SBO dengan Quick Count yang ada?

Dibandingkan dengan Quick Count, SBO lebih menekankan evaluasi terhadap aspek kualitatif dari proses pemilihan di TPS, dibandingkan dengan hasil perolehan suara atau aspek kuantitatifnya. Quick Count yang dilakukan tanpa melakukan pemantauan, tidak dapat mendeteksi kecurangan atau masalah yang mungkin terjadi ketika proses pemungutan/ penghitungan suara, yang dapat mempengaruhi hasil perolehan suara di TPS yang bersangkutan. Karena SBO memberikan penekanan pada pemantauan kualitas proses pada hari pemungutan dan penghitungan suara, SBO dapat mendeteksi, melaporkan dan mengungkapkan masalah-masalah yang mungkin terjadi pada hari pemilihan. Relawan e-CARD akan memantau keseluruhan proses pemungutan dan penghitungan suara, bukan hanya proses penghitungan suara. Oleh karenanya hasil pantauan e-CARD akan mampu memberikan gambaran akan kualitas proses pemungutan suara yang terjadi di TPS

 

3.      Apakah SBO yang diselenggarakan e-CARD independen?

SBO yang diselenggarakan  e-CARD dilakukan oleh jaringan independen, tidak memihak dan tidak didanai oleh partai politik maupun kandidat perorangan tertentu. Seluruh relawan e-CARD diwajibkan untuk bersikap netral dan tidak memihak atau non partisan.  Mereka tidak diperkenankan untuk terlibat dalam kegiatan politik baik pra pemilu, ketika hari pemilihan, dan setelah hari pemilihan. Relawan e-CARD juga menandatangani dan terikat pada kode etik relawan SBO yang diantaranya menyatakan bahwa mereka bukan merupakan aktivis atau kandidat atau anggota atau tim sukses dari salah satu partai politik atau kandidat.

 

4.      Apa tujuan dari SBO?

SBO ini bertujuan untuk melaporkan kualitas pemilu, mencegah kecurangan dalam pemungutan dan penghitungan suara, memberikan verifikasi independen terhadap hasil resmi dalam waktu cepat, dan menemukan kecurangan bila ada.  Penghitungan perolehan suara resmi oleh penyelenggara pemilihan seringkali memakan waktu lama, sehingga tidak dapat segera diumumkan kepada publik. Lambatnya proses ini dapat membuka peluang terjadinya ketidakpastian atau kekosongan politik yang mengancam stabilitas suatu wilayah. SBO yang akurat dan kredibel dapat memberikan verifikasi independen terhadap hasil resmi, memprediksi secara cepat sehingga mengurangi ketengan politik setelah pemungutan suara dilakukan.

 

5.      Apakah SBO dapat mencegah kecurangan?

Pemberitahuan yang luas tentang keberadaan pemantauan independen beberapa hari sebelum pemilu dapat secara tidak langsung berpikir dua kali ketika mereka hendak melakukan kecurangan. Selain itu, keberadaan relawan SBO di TPS-TPS yang terpilih sebagai sampel dapat mencegah pihak-pihak yang ingin melakukan kecurangan di TPS tersebut. Namun memang, SBO tidak dapat mencegah kecurangan yang terjadi di luar proses di TPS atau sebelum hari pemungutan suara. Akan tetapi, informasi kuantitatif dari SBO terkait dengan proyeksi perolehan suara dapat dijadikan sebuah alat untuk verifikasi jika memang terjadi kecurangan dalam proses rekapitulasi penghitungan suara. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengamati ada tidaknya inkonsistensi perolehan suara di TPS-TPS yang diamati dengan hasil resmi penyelenggara pemilihan. Seringkali kecurangan terungkap ketika hasil tabulasi resmi penyelenggara pemilihan berbeda dengan hasil SBO.

 

6.      Bagaimana pelaksanaannya? 

e-CARD akan menurunkan 600 relawan, 60 staf untuk mengontrol kualitas, dan 24 koordinator wilayah untuk memantau di 600 TPS yang tersebar di 23 kabupaten/ kota di provinsi  Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Relawan e-CARD tidak akan memantau seluruh TPS di NAD yang totalnya berjumlah 10,027 TPS.  Para relawan e-CARD hanya akan memantau di TPS-TPS yang telah terpilih secara acak dengan mengandalkan prinsip-prinsip statistik. Para pemantau e-CARD akan mengirimkan hasil pantauannya melalui SMS dan telepon ke Call Center SBO di Jakarta.   

 

7.       Apa yang dilakukan terhadap informasi ini?

Tim yang berada pada SBO Call Center akan mengolah dan menganalisa informasi yang masuk. Berbagai indikator statistik juga akan digunakan untuk dapat mengatakan seberapa akuratnya sampel kami.

 

8.      Kemudian apa?

Setelah memeriksa angka-angka yang masuk, melakukan analisa, termasuk melakukan verifikasi jika diperlukan, kami akan merilis hasil SBO kepada publik melalui konferensi pers.

 

9.      Seberapa akuratnya SBO ini?

Relawan SBO telah dilatih terkait dengan aspek-aspek dalam prosedur di TPS. Mereka pun telah dibekali dengan lembar pemantauan sebagai indikator yang digunakan untuk mengevaluasi proses yang terjadi di TPS. Sehingga informasi yang dihasilkan oleh SBO merupakan informasi yang berbasis pada fakta di lapangan.

Dalam aspek kuantitatif, SBO tidak mendasarkan diri pada opini siapapun, namun berdasarkan perolehan suara di TPS. Jadi proyeksi SBO akurat, apabila mengacu pada metodologi statistik dan penarikan sample yang ketat. Namun jikalau terjadi kecurangan dalam proses di TPS yang dapat mempengaruhi hasil perolehan suara di TPS tersebut, SBO dapat dengan akurat mengevaluasi proses tersebut. Namun apabila pemilu berjalan lancar tanpa kecurangan, akurasi SBO dapat dibandingkan dengan hasil resmi KIP.

 

10.    Apa perbedaan SBO dengan survei-survei lainnya?

SBO bukanlah sebuah survei. Survei publik menggambarkan opini masyarakat terkait bagaimana mereka akan memilih atau informasi terkait dengan perilaku pemilih. Belajar dari pengalaman Pilkada Aceh yang lalu, masyarakat belum tentu menjawab dengan jujur akan apa pilihan mereka sebenarnya. Sedangkan SBO berdasarkan pada fakta dan pantauan di lapangan. Sedangkan untuk proyeksi hasil perolehan suara DPRA para pemantau SBO mencatat hasil perolehan suara yang telah ada. SBO tidak melihat preferensi, tetapi mengukur perilaku pemilih. Kelebihan lainnya, pemantau SBO tidak hanya mencatat hasil perolehan suara tetapi memantau keseluruhan proses dari pembukaan hingga penghitungan suara di TPS selesai, sehingga apabila terjadi kecurangan di TPS tersebut, SBO akan dapat mendeteksi hal ini.

 

11.     Dimana sajakah SBO ini sudah diterapkan?

Embrio dari SBO adalah Parallel Vote Tabulation. Ketika pada Pemilu Presiden Filipina tahun 1996, the National Citizen Movement for Free Elections (NAMFREL) berusaha mencerminkan perhitungan suara resmi dari seluruh 90,000 TPS yang ada. Mereka berhasil membongkar kecurangan besar-besaran terhadap penghitungan suara yang dilakukan oleh para pendukung Marcos. Sejak itu, the National Democratic Institute for International Affairs (NDI) telah membantu lebih dari 35 organisasi untuk melakukan PVT, termasuk di antaranya Bulgaria, Kroasia, Guyana, Meksiko, Nikaragua, dll. Pada pemilu Zimbabwe pada bulan Maret 2008, disadari bahwa dalam situasi yang rawan kecurangan dan konflik, aspek kualitatif haruslah lebih ditekankan daripada sekedar prediksi penghitungan suara secara cepat. Oleh karena itu dari metodologi PVT, dikembangkan SBO yang lebih menekankan pada evaluasi proses di TPS yang dapat mencegah konflik. SBO juga telah dilakukan pada Pemilu Kambodia pada bulan Juli 2008.

 

12.    Bagaimana cara mendapatkan sampel yang representatif?

Unit analisa dalam SBO adalah TPS, sehingga penarikan sampel tidak dapat dilakukan sebelum daftar TPS tersedia. Dalam menentukan sampel, SBO memperhatikan distribusi pemilih, baik secara geografis, maupun keragaman pemilih, misalnya pemilih urban/ rural. Dengan sampel acak, SBO dapat mengevaluasi dan memperkirakan dengan akurat bagaimana karakteristik dari populasi. Namun tentunya, sampel ini dirancanga dengan margin of error yang sudah diketahui.

 

13.    Siapakah Community for Aceh Resources Development (e-CARD)?

Pada Pemilu 9 April 2009 di Aceh, SBO akan diselenggarakan oleh e-CARD.  e-CARD adalah sebuah organisasi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) nirlaba yang pada awalnya adalah organisasi perkumpulan yang dibentuk oleh beberapa orang yang memiliki visi yang sama terhadap pengembangan Aceh. Sekelompok akademisi yang tergabung dalam Forum Rektor Indonesia Simpul Aceh ketika itu sepakat membentuk wadah yang mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sipil dalam rangka percepatan proses pembangunan melalui pendidikan informal dana upaya ilmiah lainnya. Pada tanggal 22 Juni 2002 dibentuklah lembaga informal yang diberi nama e-CARD. Organisasai ini baru diresmikan pendiriannya pada tanggal 6 Mei 2005. Selain pendidikan dan pelatihan, e-CARD juga melakukan program pendidikan pemilih (voter education) bagi perempuan generasi muda di tiga kabupaten/kota di wilayah pantai Barat Selatan, yaitu Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Aceh Barat. Untuk kegiatan SBO, e-CARD menerima bantuan teknis dari the National Democratic Insitute for International Affairs (NDI) dan sudah terdaftar sebagai organisasi pemantau dan lembaga pelaksana penghitungan cepat.

 

14.   Kapan pengumuman hasil pantauan e-CARD?

Berikut adalah jadwal rencana konferensi pers yang akan dilakukan oleh e-CARD.

Tanggal

Kegiatan

Tempat

9 April 2009

Pk :19:00*

Press Conference I: Kualitas proses pembukaan & pemungutan suara di Aceh

Ruang Aceh 1

Hermes Hotel

Jl. T. nyak makam Banda Aceh

10 April 2009

Pk: 17:00*

Press Conference II: Hasil pemantauan penghitungan suara di Aceh

Ruang Aceh 1

Hermes Hotel

Ditunda

Press Conference III terkait verifikasi independen terhadap hasil penghitungan suara Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA)

 

 

* Dapat berubah sewaktu-waktu. Untuk kepastian jam konferensi pers harap hubungi 0811 893 128